ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AUDIT DELAY PADA EMITEN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan guna melengkapi syarat-syarat untuk mencapai

gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Jenjang Strata Satu

Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma

 

Disusun Oleh :

Nama                           : Riyani Kusumawati

NPM                           : 26210084

Kelas                           : 4EB10

Jurusan / Jenjang         : Akuntansi / S1 

 

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

DEPOK

2013

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1       Latar Belakang Masalah

            Perkembangan kegiatan di Bursa Efek Indonesia kini berkembang pesat. Perkembangan tersebut ditandai dengan berkembangnya perusahaan-perusahaan yang go public, maka hal ini  akan berdampak pada peningkatan permintaan akan audit laporan keuangan yang efektif dan efisien. Laporan keuangan ini digunakan untuk kepentingan manajemen perusahaan dan juga digunakan oleh pemilik untuk menilai pengelolaan dana yang dilakukan oleh manajemen perusahaan, selain itu juga para investor, kreditor, pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak lain juga membutuhkan laporan keuangan ini sebagai dasar pengambilan suatu keputusan.

            Setiap perusahaan go public diwajibkan untuk menyampaikan laporan keuangan yang disusun sesuai dengan Satndar Akuntansi Keuangan yang telah diaudit oleh akuntan public yang terdaftar di Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Sebagimana yang dinyatakan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK: 2009), tentang Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan, bahwa laporan keuangan harus memenuhi empat karakteristik kualitas yang membuat informasi laporan keuangan bermanfaat bagi sejumlah besar penggunanya. Keempat karakteristik tersebut antara lain dapat dipahami, relevan, keandalan dan dapat dibandingkan.

            Karakteristik informasi yang relevan harus mempunyai nilai predikif dan tepat waktu. Setiap perusahaan yang mengeluarkan laporan keuangan pada periode tertentu selalu dinantikan oleh berbagai pihak. Laporan keuangan yang dipublikasikan oleh perusahaan go public tersebut waktu pelaporannya tidak boleh melebihi dari ketentuan yang dikeluarkan oleh BAPEPAM yaitu 90 hari atau pada akhir bulan ketiga setelah penutupan tahun buku. Hal ini sesuai dengan keputusan BAPEPAM No. 36/PM/2003 tentang kewajiban laporan berkala yang menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan disertai dengan laporan akuntan dengan pendapat yang lazim harus disampaikan kepada Bapepam selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga (90 hari) setelah tanggal laporan keuangan. Sebelumnya ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan telah diatur dalam pasar modal yaitu dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang “Peraturan Pasar Modal” menyatakan bahwa semua perusahaan yang terdaftar dalam pasar modal wajib menyampaikan laporan keuangan secara berkala kepada Bapepam dan mengumumkan kepada masyarakat. Apabila perusahaan-perusahaan tersebut terlambat menyampaikan laporan sesuai dengan dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Bapepam, maka dikenakan sanksi administrasi sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam undang-undang. Peraturan mengenai penyampaian laporan keuangan ini telah diperbaharui oleh Bapepam pada tahun 1996, lampiran keputusan Ketua Bapepam Nomor: Kep-80/PM/1996 dan mulai berlaku pada tanggal 17 Januari 1996. Dalam pertauran baru ini disebutkan bahwa perusahaan wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit selambat-lambatnya 120 hari terhitung sejak tanggal tutup buku perusahaan.

            Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dari Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI: 2001) khususnya tentang standar pekerjaan lapangan mengatur prosedur dalam penyelesaian pekerjaan lapangan seperti perlunya pencatatan atas aktivitas yang akan dilakukan, pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern dan pengumpulan bukti-bukti kompeten yang diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan dan konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan. Pemenuhan standar audit yang tidak sempurna oleh auditor berdampak pada lamnya penyelesaian laporan audit, namun di sisi lain juga dapat meningkatkan kualitas hasil auditnya.

            Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan dapat berpengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Karena laporan keuangan yang sudah diaudit yang di dalamnya memuat informasi laba yang dihasilkan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan yang dimiliki oleh investor. Artinya informasi laba dari laporan keuangan yang dipublikasikan akan menyebabkan kenaikan atau penurunan harga saham.

            GAAS (Generally Accepted Auditing Standars) khususnya pada bagian standar umum ketiga menyatakan bahwa audit harus dilaksanakan dengan penuh kecermatan dan ketelitian. Seiring dengan hal tersebut, standar pekerjaan lapangan juga harus dilaksankan dengan perencanaan yang matang dan mengumpulkan alat-alat bukti yang memadai. Adakalanya, dalam melaksanakan standar-standar tersebut ditemukan adanya penyimpangan. Penyimpangan inilah yang kadang menyebabkan lamanya suatu proses pengauditan dilakukan karena adanya unsur verifikasi yang digunakan untuk mengusut indikasi penyimpangan yang terjadi. Proses ini memungkinkan publikasi laporan keuangan yang diharapkan secepat mungkin menjadi terlambat.

            Fenomena lamanya prosees dalam terminology penelitian pengauditan dikenal dengan audit delay. Audit delay merupakan lamanya/rentang waktu penyelesaian audit yang diukur dari tanggal penutupan tahun buku sampai dengan tanggal diterbitkannya laporan audit (Kartika, 2009: 3). Banyak faktor yang dapat mempengaruhi audit delay pada suatu perusahaan, salah satunya adalah ukuran perusahaan dengan indikator total aktiva. Pengaruh ini ditujukan dengan semakin besar nilai aktiva perusahaan maka semakin pendek audit delay dan sebaliknya. Perusahaan besar diduga akan menyelesaikan proses auditnya lebih cepat dibandingkan perusahaan kecil. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu manajemen perusahaan yang berskala besar cenderung diberikan insentif untuk mengurangi audit delay dikarenakan perusahaan-perusahaan tersebut dimonitor secara ketat oleh investor, pengawas permodalan, dan pemerintah (Subekti, 2005:48).

            Berikutnya factor yang diperkirakan berpengaruh terhadap audit delay yaitu profitabilittas. Tingkat profitabilitas yang tingggi mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut mengalami keuntungan, dengan hal tersebut berarti kemungkinan akan meminta auditornya agar menjadwalkan waktu audit lebih cepat. Sebaliknya perusahaan yang mendapatkan profitabilitas rendah atau mendapatkan kerugian memacu kemunduran publikasi laporan keuangan. Sehingga perusahaan dengan tingkat profitabilitas yang tinggi mempunyai audit delay yang lebih pendek karena itu merupakan berita baik yang harus segera disampaikan kepada para investor dan pihak yang berkepentingan lainnya (Ibid: 49).

            Opini auditor diperkirakan mempengaruhi audit delay. Audit delay semakin panjang jika perusahaan memperoleh pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion). Sementara pada perusahaan yang memperoleh pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) mempunyai waktu audit yang lebih cepat (Ratnawaty dan Toto Sugiharto, 2005).

            Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) yang mengaudit juga diperkiraan mempengaruhi audit delay. Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah suatu bentuk organisasi akuntan public yang memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yang berusaha di bidang pemberian jasa professional dan dalam praktek akuntan publik. Pengukuran KAP dibagi menjadi dua yaitu KAP the big four dan KAP non big four. Hal ini juga menunjukkan dari kualitas KAP terssebut. Kualitas KAP dikatakan dapat berpengaruh siginifikan terhadap audit delay, karena sebagian besar perusahaan sudah menggunakan jasa ausit KAP the big four yang dapa melakukan auditnya dengan cepat dan efisien (Rachmawati, 2008: 3).

            Faktor lain yang diperkirakan mempengaruhi audit delay yaitu umur perusahaan. Perusahaan yang memiliki umur lebih tua cenderung untuk lebih terampil dalam pengumpulan, pemrosesan dan menghasilkan informasi ketika diperlukan, karena perusahaan telah memperoleh pengalaman yang cukup. Hal ini tentu akan mempercepat proses audit yang pada akhirnya mempengaruhi audit delay (Luciana dan Lucas, 2006:7).

Oleh karena pentingnya publikasi laporan keuangan audit sebagai informasi yang sangat bermanfaat bagi para pelaku bisnis, rentang waktu penyelesaian audit laporan keuangan yang turut mempengaruhi manfaat informasi laporan keuangan audit yang dipublikasikan. Karena masih belum ada konsistensi dari penelitian terdahulu terhadap beberapa variabel yang mempengaruhi keterlambatan audit, maka “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Pada Emiten Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI)”, menjadi judul dalam skripsi ini.

1.2       Rumusan Masalah

Dalam perumusan masalah, peneliti akan mengemukakan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan latar belakang masalah diatas, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengaruh Kantor Publik Akuntan (KAP) terhadap keterlambatan audit pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.
  2. Pengaruh Opini Auditor terhadap keterlambatan audit pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.
  3. Pengaruh Laba atau Rugi terhadap keterlambatan audit Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.
  4. Pengaruh Tingkat Solvabilitas terhadap keterlambatan audit pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.
  5. Pengaruh Tingkat Profitabilitas terhadap keterlambatan pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.

1.3       Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang tersebut diatas, tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah:

  1. Melihat pengaruh Kantor Publik Akuntan (KAP) dalam mempengaruhi keterlambatan audit pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.
  2. Untuk melihat pengaruh Opini Auditor dalam mempengaruhi keterlambatan pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.
  3. Untuk melihat pengaruh Laba atau Rugi dalam mempengaruhi keterlambatan audit pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.
  4. Untuk melihat pengaruh Tingkat Solvabilitas dalam mempengaruhi keterlambatan pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.
  5. Untuk melihat pengaruh Tingkat Profitabilitas dalam mempengaruhi keterlambatan audit pada Emiten Perbankan yang terdaftar di BEI.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1.      Laporan Keuangan

2.1.1.   Definisi Laporan Keuangan

Menurut Munawir (2004:2) “Laporan Keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan dan aktivitas suatu perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas tersebut.

Menurut Hanafi dan Halim, (2002:63), Laporan Keuangan adalah laporan yang diharapkan bisa memberi informasi mengenai perusahaan, dan digabungkan dengan informasi yang lain, seperti industri, kondisi ekonomi, bisa memberikan gambaran yang lebih baik mengenai prospek dan risiko perusahaan.

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi, yaitu proses pengkomunikasian laporan. Laporan keuangan merupakan mekanisme yang penting bagi manajer untuk berkomunikasi dengan pihak investor luar yaitu investor publik di luar lingkup manajemen serta tidak terlibat dalam pengelolaan perusahaan.

Laporan keuangan yang lengkap menurut Pernyataan Standar Aknuntansi Keuangan (PSAK) terdiri dari beberapa komponen yaitu: Neraca, Laporan Rugi-Laba, Laporan perubahan ekuitas, Laporan arus kas, dan Catatan atas laporan keuangan.

Setiap laporan keuangan yang dibuat sudah pasti memiliki tujuan tertentu. Dalam praktiknya terdapat beberapa tujuan yang hendak di capai, terutama bagi pemilik usaha dan manejemen perusahaan. Disamping itu, tujuan laporan keuangan disusun guna memenuhi kepentingan berbagai pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan.

Secara umum laporan keuangan bertujuan untuk memberikan informasi keuangan kepada pihak dalam dan luar perusahaan yang memiliki kepentingan terhadap perusahaan. Menurut SAK No.1, tujuan laporan keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.
  2. Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.
  3. Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

2.1.2.   Pengguna Laporan Keuangan

            Selain sebagai alat pertanggungjawaban, laporan keuangan diperlukan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi. Pengambilan keputusan ekonomi adalah keputusan yang dilakukan secara sadar untu menetapkan sesuatu atas dasar data dalam bisnis. Laporan keuangan mempunyai arti yang sangat penting bagi pihak yang berkepentingan, pihak-pihak yang membutuhkan informasi keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Investor atau pemilik

Pemilik membutuhkan informasi laporan kauangan untuk menilai apakah perusahaan memiliki kemampuan untuk membayar deviden. Selain itu untuk menilai apakah investasinya akan tetap dipertahankan atau dijual. Bagi calon pemilik, laporan keuangan dapat memberikan informasi mengenai kemungkinan penempatan investasi dalam perusahaan.

  1. Pemberi Pinjaman

Kreditur membutuhkan informasi keuangan guna memutuskan memberi pinjaman serta kemampuan membayar angsuran pokok dan bunga pada saat jatuh tempo.

  1. Pelanggan

Dalam beberapa situasi, pelanggan sering membuat kontrak jangka panjang dengan perusahaan, sehingga perlu informasi mengenai kesehatan keuangan perusahaan.

  1. Karyawan

Karyawan dan serikat buruh memerlukan informasi keuangan guna menilai kemampuan perusahaan untuk mendatangkan laba dan stabilitas usahanya. Karyawan membutuhkan informasi untuk menilai kelangsungan hidup perusahaan sebgai tempat menggantungkan hidup.

  1. Pemerintah

Informasi keuangan bagi pemerintah digunakan unutk menentukan kebijakan dalam bidang ekonomi, misalnya alokasi sumber daya, UMR, pajak, pungutan serta bantuan.

  1. Masyarakat

Laporan keuangan dapat digunakan untuk pengajaran, analisis informasi dan kemakmuran.

2.2       Audit

2.2.1.   Definisi Audit

Auditing adalah pengumpulan serta pengevaluasian bukti atas informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian informasi tersebut dengan kriteria yang telah di tetapkan. Auditing harus dilaksanakan oleh seorang yang kompeten.

            Konrath (2002) mendefinisikan auditing sebagai suatu objek untuk dapat mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang kegiatan-kegiatan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk meyakinkan tingkat keterkaitan antara asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.

            Menurut Agoes (2004), auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh pihak manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

            Secara umum auditing adalah proses sistematik untuk memperoleh dan mnegevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi untuk menentukan tingkat hubungan antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan serta penyampain hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan.

            Jadi kesimpulan mengenai auditing adalah ilmu memeriksa, yaitu membandingkan antara fakta dan kriteria.

            Tujuan audit secara umum atas laporan keuangan oleh auditor adalah untuk menyatakan pendapat atas kewajaran dalam semua hal yang material, posisi keuangan hasil usaha dan arus kas yang sesuai dengan prinsip akuntansi berlaku umum di Indonesia. Kewajaran laporan keuangan yang dinilai berdasarkan asersi yang terkandung dalam setiap unsur yang disajikan dalam laporan keuangan. Asersi adalah pernyataan manejemen yang terkandung dalam komponen laporan keuangan.

2.2.2    Klasifikasi Audit

a)      Berdasarkan Tujuan Audit

  1. Audit Laporan Keuangan

Audit laporan keuanagn yaitu mengumpulkan bukti atas pernyataan atau asersi pada laporan keuangan dan membandingkan apakah laporan keuangan manajemen sesuai dengan standar akuntansi.

  1. Audit Kepatuhan/Ketaatan

Audit kepatuhan atau ketaatan yaitu audit untuk menentukan apakah perusahaan telah beroperasi sesuai dengan ketentuan atau peraturan.

 

  1. Audit Operasional

Audit operasional yaitu suatu review yang sistematik atas aktivitas perusahaan yang berkaitan dengan tujuan khusus yang menilai kinerja, mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki dan membuat rekomendasi untuk perbaikan.

b)      Berdasarkan Hubungan Auditor

  1. Auditor Internal

Auditor internal adalah sebuah bagian fungsi yang independen dalam sebuah perusahaan yang bertugas menguji dan mengevaluasi aktivitas perusahaan dan memberikan layanan jasa audit kepada perusahaan.

  1. Auditor Eksternal

Auditor eksternal adalah kantor  akuntan publik yang independen terhadap perusahaan yang diaudit dengan menawarkan jasa audit.

  1. Auditor Pemerintah

Auditor pemerintahan adalah badan audit yang mengaudit pemerintahan.

2.2.3    Standar Audit

            a. Standar Umum

               Standar umum bergubungan dengan kualifikasi atau seorang auditor dan kualitas pekerjaan auditor. Standar umum terdiri dari 3 standar yaitu:

  1. Audit harus dilaksanakan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor.
  2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental yang harus dipertahankan oleh auditor.
  3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib mengggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.

            b. Standar Pekerjaan Lapangan

  1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
  2. Pemahaman memadai atas struktur pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
  3. Bukti audit kompeten yang memadai harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan dan konfirmasi sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan hasil audit.

            c. Standar Pelaporan

            Standar pelaporan berhubungan dengan masalah pengkomunikasian hasil audit. Standar pelaporan terdiri dari 4 standar, yaitu:

  1. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
  2. Laporan audit harus menunjukkan keadaan yang di dalamnya prinsip akuntansi tidak secara konsisten diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan yang sesuai dengan prinsip akuntansi yang diterapkan dalam periode sebelumnya.
  3. Pengungkapan informasi dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan audit.
  4. Laporan audit harus memuat pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan auditor dan jika ada tingkat tanggung jawab yang bersangkutan.

2.2.4    Audit Laporan Keuangan

            Laporan keuangan perlu diaudit karena beberapa alasan, antara lain:

  1. Karena ada potensi konflik antara penyedia informasi dengan pengguna informasi
  2. Informasi mempunyai konsekuensi ekonomi yang sangat penting bagi pengguna laporan.
  3. Keahlian sering menghendaki informasi disajikan dan diverifikasi
  4. Para pengguna sering tercegah mempunyai hubungan langsung dengan informasi.

2.3.      Keterlambatan Audit (Audit Delay)

            Keterlambatan Audit (Audit Delay) merupakan rentang waktu penyelesaian pelaksaan audit laporan keuangan tahunan berdasarkan lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan audit independen atas audit laporan keuangan tahunan perusahaan.

            Ketepatan waktu penyusunan atau pelaporan suatu laporan keuangan perusahaan bisa perbengaruh pada nilai laporan keuangan tersebut. Manfaat dari laporan keuangan suatu perusahaan tergantung pada keakuratannya dan ketepatan waktunya. Informasi yang relevan akan bermanfaat bagi para pemakai apabila tersedia tepat waktu sebelum pemakai kehilangan kesempatan atau kemampuan untuk mempengaruhi keputusan yang diambil. Keterlambatan dalam informasi akan menimbulkan reaksi negatif dari pelaku pasar modal. Informasi laba yang dihasilkan perusahaan dijadikan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan untuk membeli atau menjual kepemilikan yang dimiliki oleh investor.

            Proses dalam mencapai ketepatan waktu terutama dalam penyajian laporan auditor independen menjadi semakin tidak mudah mengingat semakin meningkatnya perkembangan perusahaan go public yang ada di Indonesia. Hambatan ini juga terlihat dalam Standar Pemeriksaan Akuntan Publik pada standar ketiga yang menyatkan bahwa audit harus dilaksankan dengan penuh kecermatan dan ketelitian serta pengumpulan alat bukti yang cukup memadai.

Perusahaan yang sudah go public harus menyerahkan laporan keuangan tahunan disertai dengan opini auditor kepada Bapepam. Peraturan Bapepam tersebut diatur dalam undang-undang No.8 tahun 1995 tentang publikasi laporan keuangan tahunan auditan yang bersifat wajib dengan batas waktu 120 hari dari akhir tahun fiskal sampai tanggal diserahkannya laporan keuangan yang telah diaudit ke BAPEPAM. Namun, sejak 30 September 2003, peraturan ini diganti dengan peraturan baru dengan Nomor X.K.2 tentang kewajiban penyampaian laporan keuangan ke BAPEPAM menjadi 90 hari.

2.4.      Penulisan Terdahulu

            Dalam subab ini akan di uraikan tentang beberapa penelitian terdahulu, mengenai pengungkapan atas laporan tahunan. Dimana hasilnya menunjukkan belum konsisten. Wujud belum ada konsistensi itu masih memungkinkan pembuktian lebih lanjut lewat peneltian berikutnya. Berikut penelitian terdahulu:

            Dalam jurnal yang berjudul Analisis Faktor Yang mempengaruhi Audit Delay Pada Perusahaan Food and Bevergades tercatat di BEI 2009-2011 oleh Mantik dan Sujana. Penelitian ini dilakukan dengan sampel penelitian perusahaan food and beverages yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2009-2011 terhadap 12 sampel perusahaan. Penelitian ini menggunakan variabel independen ukuran perusahaan, solvabilitas dan reputasi auditor. Hasil penelitian berdasarkan analisis regresi, uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi. Menunjukkan bahwa secara signifikan ukuran perusahaan tidak mempunyai pengaruh terhadap audit delay, solvabilitas mempunyai pengaruh terhadap audit delay, reputasi auditor mempunyai pengaruh terhadap audit delay, serta ukuran perusahaan, solvabilitas, dan reputasi auditor mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap audit delay.

            Penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2009) yang menyimpulkan, penelitian ini fokus pada perusahaan yang terdaftar di LQ 45. Data yang di pakai data sekunder. Guna membuktikan hipotesisi, dilakukan pengujian regresi berganda yang diawali uji asumsi klasik. Total asset, laba rugi mempunyai pengaruh negatif dan signifikan terhadap audit delay. Opini dari auditor punya pengaruh yang positif dan signifikan terhadap audit delay. Faktor profit dan reputasi auditor tidak mempunyai pengaruh terhadap audit delay. Dan secara bersama-sama seluruh variabel berpengaruh.

            Dalam jurnal yang disusun oleh Saputri dan Yuyeta (2011), hasil penelitian secara simultan menunjukkan bahwa seluruh variabel independen secara serempak mempunyai pengaruh signifikan terhadap audit delay. Namun, berdasarkan hasil pengujian secara parsial, reputasi KAP memiliki pengaruh negatif terhadap audit delay, sedangkan laba/rugi, opini auditor dan kompleksitas operasi perusahaan memliki pengaruh positif signifikan terhadap audit delay. Dan selanjutnya untuk variabel ukuran perusahaan, dan jenis industri tidak berpengaruh terhadap audit delay.

            Berikutnya, dalam jurnal yang berjudul “PENGARUH LEVERAGE, SUBSIDIARIES DAN AUDIT COMPLEXITY TERHADAP AUDIT DELAY” oleh Bustamam dan Kamal (2010) diperoleh nilai koefisien korelasi antara variabel independen dan dependen mempunyai hubungan yang lemah. Berdasarkan uji F membuktikan bahwa faktor-faktor audit delay berpengaruh secara signifikan. Sedangkan pada Uji-t, subsidiaries dan audit kompleksitas tidak berpengaruh terhadap audit delay, serta leverage berpengaruh signifikan.

2.5.      Kerangka Pemikiran

            Dari berbagai penelitian sebelumnya, dihasilkan peneltian yang belum konsisten. Oleh karena itu peneliti akan melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan variabel dari beberapa penelliatan sebelumnya untuk membuktikan apakah variabel berikut ini berpengaruh terhadap audit delay. Dalam penelitian ini, penulis mencoba menguji kembali beberapa variabel yaitu Kantor Akuntan Publik, Opini Auditor, Laba atau Rugi, Tingkat Solvabilitas dan Tingkat Profitabilitas.

2.5.1.   Pengaruh Kantor Akuntan Publik (KAP) Terhadap Audit Delay

            Kantor Akuntan Publik (KAP) salah satu faktor yang mempengaruhi audit delay. Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah suatu organisasi akuntan publik yang memperoleh izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berusaha di bidang pemberian jasa dalam praktek akuntan publik.

            Seorang auditor bukanlah pihak yang mengungkapkan informasi keuangan secara signifikan mengenai perusahaan. Namun, auditor berperan dalam mengungkapakan informasi tentang pengaruh material dari metode akuntansi dan menyatakan opini atas laporan keuangan yang telah diaudit. Setiap laporan keuangan tahunan perusahaan akan diaudit oleh seorang auditor yang berkerja di Kantor Akuntan Publik (KAP).

            Kualitas auditor dapat diketahui dari besarnya perusahaan audit yang melaksanakan pengauditan laporan keuangan tahunan, berstandar pada apakah Kantor Akuntan Publik (KAP) bekerja sama dengan big four atau tidak. Penelitian yang dilakukan sebelumnya banyak yang menyatakan ada kecenderungan bahwa KAP Big Four lebih cepat menyelesaikan tugas audit yang mereka terima. KAP the big four lebih menginginkan untuk mengambil sikap yang tepat dan mengeluarkan pendapat yang sesuai standar dan memiliki kemampuan teknis untuk mendeteksi going concern perusahaan.

            Berikut nama Kantor Akuntan Publik di Indonesia yang bermitra dengan big four, yaitu:

  1. KAP Price WaterHouse Cooper (PWC), berkerjasama dengan KAP Drs. Hadi Sutarto & Rekan, Haryanto Sahari & Rekan.
  2. KAP Klynveld Peat Marwick Goerdeler (KPMG), bekerjasama dengan KAP Sidharta-Sidharta& Widjaja
  3. KAP Ernest & Young (E&Y), yang bekerjasama dengan KAP Prasetio, Sarwoko & Sarjadja.
  4. KAP Deloitte Touche Thomatsu (Deloitte), bekerjasama dengan KAP Hans Tuanakotta& Mustofa, Osman Ramli Satrio & Rekan.

2.5.2.   Pengaruh Opini Auditor

Auditor sebagai pihak yang independen di dalam pemeriksaan laporan keuangan suatu perusahaan, akan memberikan pendapat atas kewajaran laporan keuangan yang diauditnya. Ada lima kemungkinan pernyataan pendapat auditor independen (Mulyadi, 2002) yaitu :

  1. a.      Pendapat wajar tanpa pengecualian (Unqualified Opinion)

      Laporan keuangan dianggap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha suatu organisasi, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia jika memenuhi kondisi berikut ini :

  1. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia digunakan untuk menyusun laporan keuangan.
  2. Perubahan penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia dari periode ke periode telah cukup dijelaskan.
  3. Informasi dalam catatan-catatan yang mendukungnya telah digambarkan dan dijelaskan dengan cukup dalam laporan keuangan, sesuai dengan akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
  4. b.      Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan tambahan bahasa penjelasan (Unqualified Opinion Report With Explanatory Language)

 Jika terdapat hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan, namun laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha perusahaan klien, auditor dapat menambahkan laporan hasil auditnya dengan bahasa penjelas. Berbagai penyebab paling penting adanya tambahan bahasa penjelasan:

  1. Adanya ketidakpastian yang material.
  2. Adanya keraguan atas kelangsungan hidup perusahaan.
  3. Auditor setuju dengan penyimpangan terhadap prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
  1. c.       Pendapat wajar dengan pengecualian (Qualified Opinion)

Pendapat wajar dengan pengecualian akan diberikan oleh auditor jika dijumpai hal-hal sebagai berikut :

  1. Lingkup audit dibatasi oleh klien.
  2. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting karena kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasaan klien maupun auditor.
  3. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak diterapkan secara konsisten.
  4. d.      Pendapat tidak wajar (Disclaimer Opinion)

Auditor akan memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas dan arus kas perusahaan klien.

Jika laporan keuangan diberi pendapat tidak wajar, maka informasi yang disajikan oleh klien dalam laporan keuangan sama sekali tidak dapat dipercaya, sehingga tidak dapat dipakai oleh pemakai informasi untuk pengambilan keputusan.

  1. e.       Pernyataan tidak memberikan pendapat (Adverse Opinion)

Jika auditor tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit, maka laporan audit ini disebut dengan laporan tanpa pendapat (no opinion report). Kondisi yang menyebabkan auditor tidak memberikan pendapat adalah:

  1. 1.      Pembatasan yang luar biasa sifatnya terhadap lingkup audit.
  2. 2.       Auditor tidak independen dalam hubungannya dengan kliennya. Perbedaan antara pernyataan tidak memberikan pendapat dengan pendapat tidak wajar adalah pendapat tidak wajar diberikan dalam keadaan auditor mengetahui adanya ketidakwajaran laporan keuangan pendapat karena ia tidak cukup memperoleh bukti mengenai kewajaran laporan keuangan yang diaudit.         

2.5.3.      Pengaruh Laba atau Rugi

Laba menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam mendapatkan keuntungan dari usaha yang dilakukan. Namun, sebaliknya rugi menunjukkan ketidakberhasilan dalam menjalankan usahanya.

Menurut Caslow (1991) dalam penelitian Kartika (2009), ada dua alasan mengapa perusahaan yang menderita kerugian cenderung mengalami audit delay yang lebih panjang. Pertama, ketika kerugian terjadi perusahaan ingin menunda bad news sehingga perusahaan akan meminta auditor untuk menjadwal ulang penugasan audit yang lebih lama dari biasanya. Kedua, auditor akan lebih teliti selama proses audit jika percaya bahwa kerugian ini mungkin disebabkan karena kegagalan perusahaan dan kecurangan manajemen informasi tentang laba perusahaan, sehingga auditor membutuhkan waktu yang lama dalam mengaudit laporan keuangan.  

2.5.4.      Pengaruh Tingkat Solvabilitas

Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memenuhi semua kewajiban-kewajiban baik kewajiban jangka pendek maupun jangka panjangnya, Perusahaan yang tidak solvabel adalah perusahaan yang total utangnya lebih besar dibandingkan dengan total asetnya. TDTA (Total Debt to Total Asset) dapat dihitung sebagai berikut:

Image

Perusahaan yang kondisi rasio hutang terhadap asset nya yang tinggi akan terlambat dalam penyampaian pelaporan keuangan, karena waktu yang ada di gunakan untuk menutupi kondisi dan melakukan segala cara agar kondisi tersebut tidak diketahui oleh pihak yang berkepentingan dalam laporan keuangan.

1.5.3.      Pengaruh Tingkat Profitabilitas

Untuk menilai tingkat profitabiltas perusahaan dilihat dari laba bersih sebelum pajak. Perusahaan yang mengumunkan rugi atau tingkat profitabilitas yang rendah, maka akan membawa reaksi negatif terhadap pasar dan turunnya penilaian atas kinerja perusahaannya. Sedangkan perusahaan yang mampu menghasilkan profit akan cenderung mengalami audit delay yang lebih pendek, sehingga good news tersebut dapat segera disampaikan kepada para investor dan pihak yang berkepentingan.

Image

 

Sebagai dasar pemikiran bahwa tingkat keuntungan dipakai sebagai salah satu cara untuk menilai keberhasilan efektivitas perusahaan, tentu saja berkaitan dengan hasil akhir dari berbagai kebijakan dan keputusan perusahaan yang telah dilaksanakan oleh perusahaan dalam periode berjalan.

Dari penjelasan atas hubungan antar variabel diatas, maka dapat dibuat kerangka pemikiran sebagai berikut:

Image

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1.      Populasi dan Sampel

Populasi adalah jumlah keseluruhan dari objek yang karakteristiknya akan diteliti. Populasi yang ingin diambil oleh penulis adalah emiten perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sedangkan sampel adalah sebagaian wakil dari populasi yang diteliti. Sampel dilakukan dengan tujuan dan target tertentu. Pemilihan sampel dilakukan dengan menggunakan kriteria. Kriteria tersebut, pertama adalah perusahaan tergolong perusahaan yang bergerak di bidang perbankan dan terdaftar sebagai emiten perbankan yang terdaftar di BEI. Kedua perusahaan menerbitkan atau mempublikasikan laporan keuangan yang telah di audit tahun 2008 -2012 secara lengkap sesuai dengan data yang diperlukan oleh peneliti dalam melakukan penulisan ini. Dari eliminasi pada emiten perbankan terdapat 28 perusahaan yang masuk dalam kriteria peneliti.

 

3.2.      Sumber dan Jenis Penelitian

Data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data laporan keuangan diperoleh melalui website www.idx.co.id dan website perusahaan terkait.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang merupakan pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

 

 

3.3.      Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, penulis melakukan pengumpulan data penelitian yaitu dengan metode dokumenter yaitu dengan mempelajari, mengklasifikasi dan menganalisis data sekunder berupa laporan auditor independen, laporan keuangan tahunan. Penelitian ini juga dilakukan dengan menggunakan studi kepustakaan yaitu dengan membaca, mempelajari literature dan  informasi lainnya yang terkait dengan lingkup pembahasan penelitian ini.

Metode sampel yang diterapkan adalah metode purposive sampling yaitu pemilihan sampel secara tidak acak yang informasinya diperoleh dengan menggunakan pertimbangan tertentu disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian.

3.4.      Variabel Penelitian

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua yaitu variabel independen dan variable dependen.

3.4.1.      Variabel Independen (X):

 

3.4.1.1. KAP (Kantor Akuntan Publik)  = X1

Kantor Akuntan Publik adalah suatu bentuk organisasi akuntan publik yang memeproleh  izin sesuai dengan peraturan perundang-undangan, yang berusaha di bidang pemberian jasa profesional dalam praktek akuntan publik.

KAP (Kantor Akuntan Publik) dikategorikan menjadi Big Four dan Non Big Four. KAP big four adalah sebagai berikut:

  1. KAP Price Waterhouse Coopers (PWC), bekerjasama dengan KAP Drs. Hadi Sutanto & Rekan, Haryanto Sahari & Rekan.
  2. KAP Klynveld Peat Marwick Goerdele (KPMG), bekerjasama dengan KAP Sidharta-Sidharta & Widjaja.
  3. KAP Ernest & Young (E & Y), bekerjasama dengan KAP Prasetio, Sarwoko, & Sanjadja.
  4. KAP Deloitte Touche Thomatsu (DTT), bekerjasama dengan KAP Hans Tuanakotta & Mustofa, Osman ramli satrio & Rekan.

Kategori KAP merupakan variable dummy dimana KAP yang memiliki hubungan internasional (big four) diberi nilai 1 (satu) dan yang tidak memiliki hubungan internasional (non big four) diberi nilai 0 (nol).

3.4.1.2.Opini Auditor = X2

Opini Auditor adalah  pendapat yang diberikan oleh auditor independen atas laporan keuangan yang disajikan oleh suatu perusahaan. Opini auditor dalam penelitian diukur dengan melihat jenis opini yang diberikan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan emiten perbankan yang terdaftar di BEI.

Ada lima jenis pendapat yang diberikan oleh auditor kepada perusahaan. Dalam penelitian ini pendapat auditor dibedakan menjadi dua kelompok yaitu perusahaan yang menerima pendapat wajar tanpa pengecualian diberi kode 1 (satu) dan perusahaan yang menerima pendapat selain wajar tanpa pengecualian diberi kode 0 (nol).

3.4.1.3.Laba atau Rugi = X3

Laba menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam mendapatkan keuntungan dari usaha yang dilakukan. Namun, sebaliknya rugi menunjukkan ketidakberhasilan perusahaan dalma menjalankan usahanya.

Dalam pengukuran variabel ini dengan cara dummy yaitu nilai untuk perusahaan yang mengumumkan laba diberi nilai “1” (satu) sedangkan apabila perusahaan mengumumkan rugi diberi nilai “0” (nol).

3.4.1.4.Tingkat Solvabilitas = X4

Solvabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam membayar semua kewajibannya dari harta perusahaan tersebut. Bila tingkat solvabilitas tinggi, maka resiko kegagalan perusahaan tersebut dalam mengembalikan pinjaman juga akan tinggi, demikian pula sebaliknya.

Solvabilitas yang akan digunakan dengan rasio keuangan Total Debt to Total Asset (TDTA). Bila kewajiban lebih besar daripada harta, maka akan meningkatkan kecenderungan kerugian dan meningkatkan ketelitian auditor dalam mengaudit laporan keuangan.

3.4.1.5.Tingkat Profitabilitas = X5

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba. Profitabilitas diukur dengan rasio Return On Asset (ROA) yang dihitung bedasarka Laba bersih dibagi dengan total aktiva. Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi diduga waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan auditnya akan lebih pendek dibandingkan perusahaan dengan profitabilitas rendah.

3.4.2.      Variabel Dependen (Y): Audit Delay

Variabel depende yaitu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain. Dalam penelitian ini akan menggunakan variabel dependen audit delay.

Audit delay merupakan rentang waktu penyelesaian pelaksanaan audit laporan keuanagn tahunan berdasarkan lamanya hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan auditor independen atas laporan audit laporan keuangan tahunan perusahaan. Audit delay dihitung dari tanggal penutupan buku sampai tanggal auditor mengeluarkan laporan audit atas laporan keuangan.

3.5.       Definisi Operasional dan pengukuran

Berikut ini adalah tabel dari definisi operasional dan pengukuran dalam penelitian ini:

Tabel 3.1

Pengukuran Variabel dan Operasional Variabel

Variabel yang diukur

Indikator

Skala

Sumber data

1)      Variabel Independen

KAP(Kantor Akuntan Publik)

 

Big four dan non big four.

 

Dummy

 

Sekunder

 

Opini auditor

Wajar tanpa pengecualian dan selain wajar tanpa pengecualian.

Dummy

 

Sekunder

 

 

Laba atau Rugi

Mengalami laba atau rugi di lihat dari laporan L/R

Dummy

Sekunder

Tingkat Solvabilitas

Total Hutang dibagi dengan total aktiva dikalikan 100%.

Rasio

Sekunder

 

Tingkat Profitabilitas

Nilai laba bersih dibagi dengan total aktiva dikalikan 100%.

Rasio

Sekunder

2)      Variabel Independen

 

Audit Delay

 

Lama waktu penyelesaian audit dari tanggal akhir tahun buku sampai diterbitkannya laporan auditor.

 

 

Rasio

 

 

Sekunder

 

 

3.6.     Teknik Analisis Data

Data yang siap diolah akan dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan program SPSS versi 19.0. Untuk menguji hipotesis yang telah dirumuskan, maka dalam penelitian ini digunakan metode analisis data sebagai berikut:

 

3.6.1.      Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif berfungsi sebagai penganalisis data dengan menggambarkan sampel data yang telah dikumpulkan. Penelitian ini menjabarkan jumlah data, rata-rata, nilai minimum dan maksimum serta standar deviasi.

 

3.6.2.      Uji Asumsi Klasik

Hasil analisis regresi memerlukan pengujian asumsi klasik untuk menghasilkan suatu model yang baik. Uji asusmsi klasik digunakan untuk mengetahui ada tidak nya multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan autokorelasi dalam model regresi.

3.6.2.1  . Uji Normalitas

            Uji Normalitas data bertujuan untuk mengetahui apakah data dalam sebuah model regresi, variabel penggangu atau residual mempunyai distribusi normal atau tidak. Dalam penelitian ini normalitas menggunakan One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test, bila nilai signifikan semua variabel lebih dari 0,05 maka variabel tersebut telah terdistribusi normal.

            3.6.2.2. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas artinya antarvariabel independen yang terdapat dalam model regresi memiliki hubungan linear yang sempurna atau mendekati sempurna (koefisien korelasinya tinggi atau bahkan 1). Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi sempurna atau mendekati sempurna diantara variable bebasnya. Konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisen korelasi variable tidak tertentu dan kesalahan menjadi sangat besar atau tidak terhingga.

Ada beberapa metode uji multikolinearitas, yaitu:

  1. Dengan membandingkan nilai koefisien determinasi individual (r2) dengan nilai determinasi secara serentak (R2).
  2. Dengan melihat nilai tolerance atau variance inflation factor (VIF) pada model regresi.

Batas tolerance adalah 0,10 atau nilai VIF adalah 10. Jika VIF > 10 dan nilai tolerance <0,10, maka terjadi multikolinearitas tinggi antar variable bebas dengan variable bebas lainnya.

3.6.2.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Dalam penelitian pengujian heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat pola titik-titik pada grafik regresi antara nilai prediksi variable terikat (deepnden) yaitu ZPRED (Standardized Predicted Value) dengan residualnya SRESID (Studentized Residual). Uji yang baik seharusnya tidak terjadi heteroskedastisiitas

Deteksi ada tidaknya heteroskedasitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah residual (Y prediksi –Y sesungguhnya) yang telah di studentized. Jika ada pola tertentu, seperti titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar kemedian menyempit), maka mengindikasi telah terjadi heteroskedasitas. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Pada penelitian ini akan di uji dengan melihat pola titik-titik pada grafik regresi.

3.6.2.4. Uji Autokorelasi

Autokorelasi merupakan korelasi antara anggota observasi yang disusun menurut waktu atau tempat. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi autokorelasi. Metode pengujian menggunakana uji Durbin Watson (DW test). Model regresi dikatakan tidak terdapat autokorelasi apabila nilai Durbin Watson berkisar 1,55 sampai 2,46 (untuk n<15).

Model regresi yang baik adalah regresi yang bebas dari autokorelasi. Kriteria pengujian dengan hipotesis tidak ada autokorelasi adalah sebagai berikut, Menurut Santoso kriteria autokorelasi ada 3, yaitu:

 

  • Nilai D-W di bawah -2 berarti diindikasikan ada autokorelasi positif.
  • Nilai D-W di antara -2 sampai 2 berarti diindikasikan tidak ada autokorelasi.
  • Nilai D-W di atas 2 berarti diindikasikan ada autokorelasi negatif.

 

3.6.3.      Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk menyatakan hubungan fungsional antara variabel independen dan variabel dependen. Adapun bentuk model regresi yang digunakan sebagai dasar adalah bentuk fungsi linear yakni:

            Y         = a + b1X1 +  b2X2  + b3X3 +  b4X4 + b5X5 + e

dimana:

a          = Konstanta

Y         = Audit Delay

X1       = Kantor Akuntan Publik (KAP)

X2       = Opini Auditor

X3       = Laba atau rugi

X4       = Tingkat Solvabilitas

X5       = Tingkat Profitabilitas

b1.. b2.. b3.. b4.. b5 = koefisien regresi masing-masing variabel independen

e          = faktor penggangu

 

3.6.4.      Uji Parsial (Uji-t)

Uji t merupakan uji signifikan pengaruh setiap variabel antara variabel independen terhadap variabel dependen. Dengan demikian, melalui uji t akan diketahui bagaimana pengaruh variabel independen secara parsial terhadap audit delay.

  1. Jika –ttabel  ≤ thitung  ≤ ttabel maka H0 diterima yang artinya tidak ada pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat.
  2. Jika –ttabel > – thitung atau ttabel < thitung maka H0 ditolak yang artinya ada pengaruh antara variabel bebas dengan variabel terikat.

 

3.6.5.      Uji Simultan (Uji F)

Uji F adalah menguji variabel independen secara bersama terhadap variabel dependen. Uji F digunakan untuk menguji hipotesis penelitian, yang ditempuh melalui dua pendekatan, yaitu: membandingkan angka F hitung dengan F tabel.

  1. Jika Fhitung ≤ Ftabel, maka Ho di terima,
  2. Jika Fhitung ≥ Ftabel, maka Ho ditolak.

Atau bisa dilihat dari nilai p-value yang muncul,

  1. Jika p < α, maka Ho ditolak,
  2. Jika p > α, maka Ho diterima.

3.7.            Hipotesis

Ha1: KAP (Kantor Akuntan Publik) berpengaruh terhadap audit delay.       

Ha2: Opini Auditor berpengaruh terhadap audit delay.

Ha3: Laba atau Rugi berpengaruh audit delay.

Ha4: Tingkat Solvabilitas berpengaruh terhadap auditdelay.

Ha5: Tingkat Profitabilitas berpengaruh terhadap audit delay.

Ha6: KAP (Kantor Akuntan Publik), Opini Auditor, Laba atau Rugi, TDTA dan ROA berpengaruh terhadap audit delay.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Agoes, Sukrisno. Auditing (Pemeriksaan Akuntan oleh Kantor Akuntan Publik).

Bustamam dan Maulana Kamal (2010), Pengaruh Leverage, Subsidiaries, dan Audit Complexity Terhadap Audit Delay, Jurnal telaah & Riset Akuntansi, Vol.3, No.2 Juli 2010, Hal. 110-     122.

Hasanug, Nanu (2011). Akuntansi Dasar: Teori dan Praktik. Jakarta.Mitra Wacana Media.

Kartika, Andi (2009), Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay Di Indonesia (Studi Empiris Pada Perusahaan-Perusahaan Lq 45 Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta),  Jurnal Bisnis dan Ekonomi (JBE), Maret 2009, Hal. 1 – 17 Vol. 16, No.1.

Mantik, I Md Ngr Sudewa dan Edy Sujana, Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Audit    Delay   Pada Perusahaan Food And Beverages Tercatat Di Bei 2009-2011.

Mumpuni, Rahayu, “Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay pada Perusahaan Nonkeuangan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2006-2008

Murni, Ratna (2008), Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keterlambatan Penyajian Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur yang Listing Di Bursa Efek Indonesia.Surabaya.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 1 (Revisi 2009) Penyajian Laporan Keuangan. Dewan Standar Akuntansi Keuangan-Ikatan Akuntansi Indonesia, Jakarta.

Priyantno, Duwi (2009). 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta. Andi Offset.

Priyantno, Duwi (2012). Cara Kilat Belajar Analisis Data dengan SPSS 20. Yogyakarta. Andi Offset.

Rachmawati, Sistya “Pengaruh Faktor Internal dan Eksternal Perusahaan Terhadap Audit Delay dan Timeliness, “ Jurnal Akuntansi Keuanggan, Vol. 10, No. 1 (Mei 2008).

Ratnawaty dan Toto Sugiharto, “Audit Delay pada Industri Real Estate dan Properti yang terdaftar di BEJ dan Faktor yang Mempengaruhinya,” Seminar Nasional Pesat, Auditorium Universitas Gunadarma, Jakarta, (2005).

Saputri, Oviek Dewi dan Dr. Etna Nur Afri Yuyetta, SE, MSi, Akt. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay (Studi Empirirs Pada Perusahaan-Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

Spica, Luciana dan Lucas, “Faktor-faktor yang Mempengaruhi penyelesaian penyajian laporan keuangan,” Seminar Nasional Good Corporate Governance, Universitas Trisakti Jakarta (November 2006).

Subekti, Imam, “Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Audit Delay di Indonesia,” Jurnal Ekonomi dan Manajemen, Vol. 6, No. 1 (Februari 2005)

Sulistyawati, Ardiani Ika. Praktek Audit Delay oleh Auditor dan Kaitannya dengan Timelines SOLUSI, Vol. 8 No. 2, April 2 2009 : 1 – 10.

www.idx.co.id

www.bapepam.go.id

 

 

 

 

One thought on “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI AUDIT DELAY PADA EMITEN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

  1. apa alasan anda mengambil judul itu?
    mengapa hanya meneliti 5 variabel dan kenapa tidak sertakan variabel ukuran perusahaan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s