KEKURANGANNYA TIDAK MEMBATASINYA UNTUK TERUS MENCETAK PRESTASI

Image

Namanya adalah Muhammad Erwinsyah, ia terlahir sebagai orang yang normal. Tetapi ketika masih bayi, ia mengalami kecelakaan dan itu membuat dirinya menjadi seorang TunaWicara hingga saat ini. Sepertinya, Allah memang selalu adil kepada umatnya. Kekurangannya sebagai TunaWicara tidak membuatnya untuk putus asa dalam hidup. Ia selalu memiliki semangat untuk mecetak prestasi di bidang Olahraga Bulutangkis. Walaupun seorang TunaWicara, ia tidak bisa dipandang sebelah mata dalam bidang Olahraga Bulutangkis. Sudah banyak prestasi yang ia cetak di bidang olahraga yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia ini.

Dorongan dan dukungan dari orangtuanya lah yang membuat ia menggeluti olahraga ini. Ia memulai latihan Bulutangkis ketika usianya 12 tahun. Ia dimasukkan ke tempat pelatihan khusus di GOR Ragunan Jakarta. Seperti yang sudah kita tahu, sudah banyak atlet yang tercetak dari GOR ini. Di tempat tersebut, jadwal tournamentnya padat. Tidak hanya tournament di dalam negeri yang ia ikuti tetapi Tournament di luar negeri juga ia ikuti. Tournament yang pertama kali ia ikuti adalah Tournament Buluangkis di Bekasi pada tahun 2006. Di Tournament pertamanya ia tidak mendapatkan medali emas yang sangat ia harapkan. Dari situ ia lebih giat lagi latihan bulutangkis, hingga pada akhirnya di tahun 2007 ia dipanggil untuk mewakili Jakarta di Tournament Bulutangkis Yogyakarta. Di Tournament kali ini, ia mendapatkan medali emas dan memperoleh hadiah yang nominalnya sangat besar untuk ukuran anak yang berumur 14 tahun. Pada saat itu ia merasa sangat senang dan membuat bangga orangtuanya. Ia mengungkapkan “Seneng sekali bisa membeli sendiri handphone, raket, tas, dan sepatu yang bagus”.

Selain di luar GOR Ragunan, di tempat latihannya itu juga sering diadakan pertandingan. Di tempatnya berlatih ia sangat sering memperoleh juara 3 besar. Pada tahun 2011, ia mengikuti pertandingan di GOR Ragunan dan memperoleh juara pertama, sehingga ia mendapatkan kesempatan untuk Tournament ke Korea Soletan. Disana banyak sekali pengalaman yang ia dapat, karena ia bertemu dengan banyak pemain Bulutangkis Asia yang hebat. Di Tournament ini ia tidak memperoleh juara tetapi ia telah berjuang keras sampai akhirnya gagal di Semifinal melawan Cina.

Di tahun 2012 ini, ia mengikuti Kejuaraan Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XIV di  Pekan Baru, Riau. Kejuaraan Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XIV di  Pekan Baru, Riau ini adalah ajang olahraga setingkat dengan PON dimana pesertanya adalah orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus. Ia dipanggil untuk mewakili DKI Jakarta dalam cabang Olahraga Bulutangkis kategori Tunggal Putra dan Ganda Putra.

Sebelum berangkat ke Riau, selama satu minggu lamanya ia dikarantina di Asrama Atlet GOR Ragunan. Di tempat ini, ia dilatih sangat keras agar memperoleh target yang diinginkan. Seperti para atlet yang normal, hari-harinya digunakan untuk latihan fisik dan Bulutangkis. Dimulai dari pukul 06.00 sarapan pagi kemudian dilanjutkan dengan lari memutari lapangan sebanyak 10 kali pada pukul 07.00 dan latihan fisik lainnya hingga pukul 09.00. Pada pukul 10.00 ia melanjutkan latihan kembali, yaitu latihan bulutangkis hingga pukul 12.00. Tidak hanya di pagi hari, namun pada sore hari, ia kembali melakukan latihan fisik berupa lari memutari lapangan pada pukul 15.00. Kegiatan itu, rutin ia lakukan selama 5 hari.

Kejuaraan Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XIV di  Pekan Baru, Riau berlangsung dari tanggal 7-13 Oktober 2012. Ia gagal memperoleh emas di kategori Tunggal Putra. Hal ini disebabkan karena kakinya terkilir. Namun sebelum kalah, ia sempat menang menyisihkan peserta dari Sumatera Barat di pagi harinya. Pada sore harinya di hari yang sama ( 9 Oktober 2012) ia kalah dengan menyerah karena kondisi kakinya. Kekalahannya itu terjadi pada saat bertanding melawan peserta asal D.I Yogyakarta. Padahal ia mengungkapkan sangat ingin mengalahkan peserta dari Yogyakarta tersebut untuk membalas kekalahannya di Tournament GOR Ragunan tahun lalu.

Namun di category Ganda Putra ia memperoleh juara 1 dengan temannya yang bernama Edi. Satu emas mereka sumbangkan untuk Provinsi DKI Jakarta. Mereka mampu mengalahkan peserta dari Jawa Barat yang pada akhirnya membawa mereka ke Semifinal dan bertemu dengan pasangan Ganda Putra asal Sumatera Barat. Di pertandingan kali ini mereka juga berhasil dan selanjutnya masuk ke Final. Di Final ia melawan pasangan Ganda Putra asal Jawa Barat lainnya. Menurutnya, lawannnya di final ini sangat berat. Namun dengan doa dan optimis, mereka mampu mengalahkannya. Dan medali emas yang ia harapkan pun tercapai.

Semangat dan rasa optimisnya yang tinggi membuat saya bangga bisa menjadi temannya. Banyak hal yang saya dapat dari dirinya selain semangat dan optimisnya. Ia adalah orang yang sangat berbakti kepada orang tuanya dan selalu bertaqwa kepada Allah SWT. Setiap hari ia selalu mengingatkan saya untuk terus melaksanakan ibadah yang wajib maupun sunah. Hal ini lah yang saya anggap menjadi nilai plus dari dirinya. Ia sangat memotivasi saya untuk tetap semangat dalam hal apapun, walaupun dengan kekurangan yang ada sekalipun. Karena menurutnya, “Kekurangan yang saya punya bukan alasan yang kuat untuk tidak dapat melakukan hal apapun”. Jadi merasa malu lah kita sebagai manusia yang normal apabila putus asa dalam mengerjakan sesuatu yang sulit bahkan yang tidak mungkin sekalipun. Karena sesungguhnya, hal apapun bisa kita lakukan dengan rasa semangat dan optimis yang tinggi🙂.

 

 

 

 

 

 

3 thoughts on “KEKURANGANNYA TIDAK MEMBATASINYA UNTUK TERUS MENCETAK PRESTASI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s